Tampilkan postingan dengan label benarkah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label benarkah. Tampilkan semua postingan
Benarkah Satu Hari Kini Tinggal 23 Jam
Sabtu, 30 November 2013
Richard Gross, peneliti dari Jet Propulsion Laboratory, NASA menyusun model penghitungan kompleks untuk mengalkulasikan secara teoritis, bagaimana gempa bumi di Jepang, yang merupakan gempa terbesar kelima sejak tahun 1900, memengaruhi rotasi Bumi.
Memanfaatkan data dari United States Geological Survey, hasil perhitungan mengindikasikan adanya perubahan distribusi massa Bumi. Gempa Jepang telah membuat Bumi berputar sedikit lebih cepat, dan memperpendek waktu dalam satu hari hingga 1,8 mikrodetik atau sepersejuta *******
Kalkulasi yang dibuat juga menunjukkan bahwa poros Bumi bergerak sekitar 17 centimeter ke arah bujur timur. Perubahan poros ini akan membuat pergerakan Bumi sedikit berbeda. Namun itu tidak mempengaruhi posisi Bumi di ruang angkasa karena hanya kekuatan eksternal seperti gravitasi Matahari, Bulan, dan planet-planet yang mampu mengubah itu.
Seputar semakin singkatnya waktu dalam satu hari yang sudah tidak mencapai 24 jam, sebagai gambaran, akibat gempa dengan magnitude 8,8 yang terjadi tahun lalu di Chile, waktu dalam satu hari telah dipangkas sebesar 1,26 mikrodetik dan menggeser poros Bumi sekitar 8 cm.
Padahal, menggunakan kalkulasi serupa yang dilakukan setelah gempa dengan magnitude 9,1 yang menghantam Aceh tahun 2004 lalu, waktu dalam satu hari sudah berkurang sebesar 6,8 mikrodetik akibat bergesernya poros dan bentuk Bumi sekitar 7 cm.
"Rotasi Bumi terus berubah, dan tidak hanya disebabkan oleh gempa, namun juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti angin di atmosfer dan arus samudera," kata Gross, seperti dikutip dari Science Daily, 10 Mei 2011. "Bagaimana gempa memengaruhi rotasi Bumi tergantung pada skala, lokasi, dan bagaimana gempa terjadi," ucapnya.
Gross menyebutkan, dalam kurun satu tahun, waktu dalam satu hari bisa bertambah dan juga berkurang sekitar satu milidetik atau 550 kali lebih besar dibanding akibat gempa Jepang. Demikian pula dengan lempeng Bumi yang bisa bergeser sekitar 1 meter dalam satu tahun akibat berbagai gempa.
"Secara teori, apapun yang mampu meredistribusi massa Bumi akan mengubah rotasi planet Bumi," kata Gross. "Namun demikian, perubahan rotasi dan poros Bumi seharusnya tidak memengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Perubahan ini sangat alami dan terjadi kapan saja. Orang-orang tidak perlu khawatir," ucapnya.
Meski telah membuat penghitungan, kalkulasi yang dibuat Gross, baik untuk rotasi dan poros Bumi, hasilnya kemungkinan akan masih berubah dengan munculnya data-data baru yang lebih akurat seputar fenomena yang terjadi di Bumi.
Benarkah Kejayaan iPhone Meredup
Jumat, 22 November 2013
Pasar smartphone saat ini hampir di dominasi oleh Samsung dengan OS Androidnya. Apple pun dianggap tengah mengalami kejatuhan oleh beberapa pemerhati dunia gadget. Setelah Samsung berhasil mengalahkan Apple dalam kuartal kedua, laporan terbaru penjualan Samsung ternyata dua kali lipat pemasaran produk Apple.
Dilansir dari Channel Register, laporan dari bank data Gartner sebanyak 225 juta smartphone di pasarkan di seluruh dunia. Dari keseluruhan yang terjual, Samsung berhasil mencapai puncak peringkat pertama sebagai merek yang paling laris dipasaran.
Vendor asal Korea Selatan tersebut berhasil menjual 71.3 juta produk dan mencapai 31,7 % dari keuntungan di seluruh dunia. Hal ini terus mengalami peningkatan dari kuartal kedua tahun lalu yang hanya mencapai 45, 6 juta.

Sementara itu, smartphone pabrikan Apple, walau mengalami peningkatan, tapi tetap mengalami kekalahan telak oleh pesaing terberatnya, Samsung. Apple hanya mampu menjual 31,9 juta pada kuartal kedua tahun ini atau 14,2 persen dari keseluruhan penjualan smartphone.
Seorang analis dari Gartner, Anshul Gupta, menilai kekalahan Apple oleh Samsung dikarenakan produsen smartphone seri Galaxy ini menjual banyak produk dengan harga yang cukup terjangkau.
“Kami melihat lebih banyak konsumen yang membeli ponsel pintar di segmen menengah. Sekira tak lebih dari US$ 400, dan di bawah harga jual rata-rata (ASP). Inilah yang menjadi kunci bagi Samsung yang meraup keuntungan lebih di pangsa pasar menengah, dan lebih agresif melebarkan sayapnya di negara-negara berkembang,” terang Gupta.
Sementara itu, lanjut Gupta, Apple melihat penurunan ASP yang signifikan ke level terendah sejak 2007, di mana penjualan iPhone 4 dengan harga diskon meningkat melebihi penjualan iPhone 5. Dari Indikasi tersebut, Apple kini tengah menggarap iPhone murah yang disebut-sebut dengan nama iPhone 5C.
“Dilihat dari rata-rata penjualan, rencana Apple yang akan mengeluarkan iPhone murah ini sangat berisiko,”asumsi Gupta.
Ia menilai akan ada kanibalisasi lebih besar yang dilakukan oleh iPhone murah terhadap ponsel pintar Apple generasi terbaru, yakni iPhone 5S. Kehadiran iPhone murah bisa jadi mengalahkan penjualan iPhone 5S seperti iPhone 4 melampaui pemasaran iPhone 5.
Langganan:
Postingan (Atom)